SELAMAT-DATANG

Assalamu'alaikum warohmatullohi Wabarakatuh
SELAMAT DATANG KE TEMPAT KAMI DI MERDUT (MERPATI DUTA )
hatur nuhun .....

dukung persib

CLOSE FRIEND

09 Juni 2008

novel hilmy

Sejak awal kelas 3 Hilmy suka menulis cerpen atau novel, selalu tercecer dimana-mana tulisannya ( di laptop, di komputer rumah atau di kantor ). ternyata kutemukan karya hilmy yang tercecer itu di salah satu flashdisk , dan sekarang aku upload ke blog ini ....
inilah salah satu karya anakku..dan hanya sepotong,.
RUMAH BARU
Namaku Merlyna, umurku9 tahun. Hari ini di rumahku sedang ada pemberesan total. Barang-barangku semuanya dimasukan ke dalam kardus. Boneka, lampu kaca berwarna merah dan silver kesayanganku , komik-komik, dan semuanya diberi nama. Ibu menugaskanku untuk menulis nama barang di kardus. Beberapa jam kemudian, mobil bak sudah datang di depan rumahku. Dan pasti kalian tahu, aku mau pindah rumah, aku tak tahu apakah rumah itu bagus? Apakah aku akan dapat teman disana? Apakah di sebelah rumahku yang baru nanti ada anak laki-laki? Beribu pertanyaan ada di kepalaku. Ayah menyuruhku naik mobil, karena kami akan segera pergi ke rumahku yang baru, barang-barang sudah diangkut oleh mobil bak.
Rumahku cukup jauh dari rumahku yang baru. Di kanan dan kiriku banyak pepohonan dan sawah-sawah. Dimana rumahku yang baru? Rasanya jauh sekali, aku duduk santai di kursi tengah, aku anak kedua, kakaku sekolah di luar negeri, ia sangat baik namanya Mary. Walaupun kakaku perempuan, kami sangat akrab.
Mobilku berhenti di sebuah bangunan, bangunan itu seperti ada ditengah hutan disekelilingnya banyak sekali pepohonan, pohon-pohonnya tinggi- tinggi.Aku langsung tahu bahwa itu rumah baruku.
Tak ada tetangga di sebelah rumahku, semuanya pohon. Aku mengeluh kepada ayah, mengapa di sebelah rumah tak ada anak perempuan? Nanti aku main dengan siapa? Kukira rumah baru menyenangkan…. Aku ingin bertemu Chaty, teman di rumahku yang dulu. Setelah melihat rumahku yang baru, aku jadi tak mau tinggal disana. Ibu yang melihat wajahku sedang cemberut langsung membujuku. Setelah ibu membujuku, aku mau tinggal di rumah baru, walaupun aku masih tak percaya dengan kata-kata ibu. Ayah mengajak kami untuk melihat ke dalam rumah, kamarku dan kamar Mary bersebelahan tak seperti rumahku yang dulu, kamar ayah dan ibu sama seperti kamarku dan Mary, ada di lantai atas. Selain melihat-lihat ke dalam rumah kami juga melihat-lihat sekitar rumah, ada pohon terbesar yang pernah aku lihat, ada kupu-kupu yang sayapnya sangat indah, sampai-sampai ibu ingin memeliharanya! Ibu memintaku untuk mengejarnya, namun saat aku sudah sampai diujung hutan ayah melarangku mengejarnya sampai jauh lagi. Saat kami akan kembali ke rumah, ibu memberitahuku kabar gembira, kalau tahun ini Mary akan pulang! Beberapa bulan ini, aku tak sekolah karena ayah dan ibu sedang mencari sekolah yang dekat dengan rumah untukku. Mobil bak telah datang ke depan rumah baru, semua barang-barang diturunkan dari mobil bak. Ayah menyambutnya, dan menyuruhku mencari toko untuk membeli minuman. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya aku menemukan toko, disekitarnya banyak rumah-rumah dan ada sebuah stasiun kereta api. Aku langsung masuk ke dalam toko, banyak orang-orang disana, ada juga anak laki-laki, aku sekarang tahu toko yang ada didekat rumahku dan teman bermain didekat rumahku. Aku mulai pulang dengan membawa minuman pesanan ayah.
Sesampainya di rumah, aku lihat semua barang-barang sudah ada di depan rumah, ayah menyuruhku untuk membagikan minuman yang kubeli kepada orang yang membantu membawa barang-barangku ke rumah baru.
Ayah bilang kepadaku kalau Mary akan datang lusa! Aku sangat senang mendengarnya, aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan Mary.
Sekarang aku, ayah dan ibu sedang bingung. Mencari stasiun kereta api, karena Mary bilang ia akan dijemput disana. Tiba-tiba aku ingat stasiun kereta api yang kulihat di dekat toko tempat aku membeli minuman! Aku langsung memberi tahu ibu dan ayah lalu kami semua berangkat ke stasiun, dan aku yang memberi tahu jalannya. Sampai juga di stasiun, stasiun itu tak terlalu padat, jadi kamigampang untuk mencari Mary. Mary sedang duduk sambil melihat sebuah lukisan, ia juga memegangi keresek berwarna putih, rambutnya dikuncir dengan pita biru. Aku cepat-cepat memanggilnya dan berlari mendekatinya, Mary menoleh dantersenyum kepadaku, ayah dan ibu menyusul dari belakang.
Kami pulang ke rumah dengan gembira, sementara ayah menyetir, aku, ibu dan Mary mengobrol tentang rumah baru, sekolah Mary dan rencana-rencana berlibur beberapa bulan ini.
Kami tak tahu, ketika ayah berhenti di depan rumah makan. Saat aku keluar dari mobil, aku kaget! Aku berada di depan rumah makan, aku tidak menyadarinya sama sekali tadi! Ibu langsung menanyakan kepada ayah, dan ayah bilang, kami akan makan-makan! Perayaan pulangnya Mary dan rumah baru. Aku sangat kenyang telah makan banyak, kami pulang dalam diam, ibu dan Mary tertidur. Mobil ayah berhenti lagi, tapi bukan di depan rumah makan, melainkan rumah baru. Ibu dan Mary yang asalnya tertidur, tiba-tiba bangun.
Mary senang melihat-lihat rumah kami, aku juga mengajak Mary ke pohon besar, dan aku jelaskan kalau itu adalah pohon terbesar yang pernah aku lihat, ternyata Mary juga beranggapan sama denganku. Kami berdua meminta izin kepada ayah karena kita ingin mengumpulkan kayu bakar dan rumput-rumput untuk dijadikan pagar,dan rumah-rumahan yang akan aku buat didekat pohon besar, kami senang ketika ayah mengizinkan, dan ayah juga bilang aku dan Mary boleh meminjam alat-alatnya, dan memang kami membutuhkannya!
Setelah itu kami langsung beraksi, aku pergi untuk mengumpulkan rumput dan kayu bakar, sedangkan Mary mencari barang-barang yang diperlukan dari dalam rumah. Aku langsung menerobos daun-daun kering yang berjatuhan, sampai daun itu terbang. Setelah lama aku mencari, datanglah Mary ia berlari ke arahku dengan membawa barang-barang, dan menaruhnya didekat tempatku bekerja, Mary membantu pekerjaanku. Semuanya selesai kami beristirahat sebentar, di sebelah pohon besar sudah ada rumah-rumahan yang sangat cantik, apa lagi aku dan Mary menambahkan bunga-bunga yang kita petik sendiri, rumah-rumaha itu juga bisa kita masuki, alasnya hanya tanah, tapi Mary bilang kita berdua nanti akan membeli sesuatu untuk alasnya. Mary pulang sebentar untuk membawakan makanan dan minuman untuku, sementara aku menunggu keringat mengucur di sekujur tubuhku tapi aku sudah puas sekaligus senang karena rumah-rumahan yang aku dan Mary idamkan sudah jadi, aku sedang duduk didalamnya menunggu kakak yang sangat kusayangi.
Mary datang dengan membawa air dan kue kesukaanku, kita makan bersama di rumah yang telah kita buat. Aku tak tahu kalau Mary kesini dengan membawa izin dari ayah dan ibu! Kita boleh menginap di rumah-rumahan ini! Mungkin rumah-rumahan ini cukup untuk badanku dan badan Mary, kami berlari ke rumah untuk mengambil barang-barang yang kita perlukan untuk menginap, aku mengambil tikar dan karpet untuk alas sementara, Mary mengambil garam untuk jaga-jaga kalau ada ular, disana mungkin tak ada binatang buas seperti macan dan harimau tetapi kita yakin disana masih ada ular.
Aku berangkat dengan semangat, kulihat wajah Mary juga sama sepertiku ia terlihat sangat bersemangat. Sesudah sampai di depan pohon besar, kami menngelar tikar dan ditumpuk oleh karpet supaya hangat, didepan rumah-rumahan kami pasang plastik yang sangat besar untuk menutupinya, karena kalau memakai plastik terlihat sampai ke dalam, aku dan Mary memasangkan kain taplak yang sama besarnya dengan plastik itu.
Kami mulai mencari kayu bakar untuk membuat api unggun di depan pohon besar. Kayu bakar sudah terkumpulkan, agak capek juga membuat api unggun, aku danMary bergantian memcobanya dan akhirnya nyalalah api unggun itu, suara api itu beradu dengan suara kodok, Mary takut dengan kodok, jadi kita masuk ke dalam rumah-rumahan. Hangat juga didalam, aku tidur didekat tirai, garam sudah ditaburi olehku, Mary membacakan cerita dengan senter di tangan kirinya dan buku di tangan kanannya, aku senang bisa membuat rumah-rumahan ini dan juga tidur didalamnya. Pagi pun tiba, aku bangun lebih dulu daripada Mary, aku membuka tirainya supaya cahaya masuk ke dalam, kulihat di luar apai unggun sudah mati dan para kodok yang tadi malam berkeliaran sudah tak ada, kutemukan sebuah buku cerita menimpa muka Mary. Aku bermaksud menakut-nakuti Mary, jadi aku pergi ke belakang pohon dan kupanngil namanya supaya ia terbangun, memang benar! Mary terbangun! Tapi Mary tidak memperdulikan, kalau aku tak ada didalam, ia malah keluar dengan membawa buku cerita, bantal dan selimut yang aku dan dia pakai, aku kaget saat ia berjalan menuju rumah, kali ini rencana ku gagal, aku tak membuat Mary takut, padahal aku ingin mengerjainya, lalu aku masuk ke ruma-rumahan, semuanya sudah dibawa oleh Mary, hanya karpet dan tikar yang belum Mary bawa jadi aku yang membawanya.
Sampailah aku dirumah, aku duduk sebentar di kursi teras, tiba-tiba ada yang membuka pintu, aku kaget sekali sapai kursi yan aku duduki terangakat. Ternyata ibu yang membuka pintu, ibu menyapaku dan memberikanku susu rasa coklat dan sepotong sandwich. Ibu menanyakan tentang acara menginap tadi malamku dan Mary ketika makan siang, ayah bilang kepadaku, katanya Mary boleh ikut mencari sekolah untuku besok! Acara keluarga lagi nih!
Rencananya, hari ini aku, ayah, ibu dan Mary akan mencari sekolah untuku. Semuanya sibuk, karena hari ini kami harus buru-buru. Kami akan sarapan di rumah makan, lalu kami pergi ke toko untuk membeli keperluan setelah itu kami baru mencari sekolah untuku, kalau kami tidak mendapatkan sekolah yang cocok, akan dilanjutkan besok, karena hari ini ada acara lain yang terakhir dan sangat penting yaitu, pergi ke tempat wisata! Saat mendengar ini aku sangat senang. Ibu mempersiapkan yang akan kami bawa, karena kita juga akan berenang! Mary sedang sibuk berdandan aku sendiri sedang mengantri untuk mandi, ibu sedang mempersiapkan baju-bajunya, dan ayah sedang mandi, lama sekali menunggu ayah mandi, terpaksa aku harus menggunakan kamar mandi teratas, yang menyaramkan! Ternyata, di atas tak ada apa-apa, hanya ada beberapa laba-laba.
Semua sudah masuk ke dalam mobil, dan saatnya kita berangkat! Kami berangkat dari rumah jam 6 pagi dan langsung menuju rumah makan yang dulu kita berpesta pulangnya Mary dan rumah baru. Setelah makan, kami menyimpan mobil di rumah makan, karena jarak dari rumah makan ke toko sangat dekat sekalian mengirit bensin. Ibu yang paling heboh saat berbelanja, aku langsung ke tempat mainan, namun aku takut jika sendiri jadi aku minta ditemani Mary, ayah juga sedang sibuk melihat barang-barang. Setelah berbelanja, mobil sangat penuh tapi sekarang saatnya mencari sekolah. Ayah berhenti di depan sekolah dasar, ayah dan ibu menyuruhku keluar dari mobil dan menyuruh Mary menuggu di mobil. Di depan sekolah itu ada patung dan air mancur, tamannya juga indah, kami masuk ke dalamnya, dalamnya sangat bagus semuanya kayu indah dengan banyak ukirannya, tulisan selamat datang terlihat jelas di pintu masuk, di ujung ruangan itu tertulis ruang kepala sekolah, ayah mengajak kami masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Sepertinya ayah akan meminta izin kepada kepala sekolah supaya aku bisa melihat-lihat sekolah ini, ternyata betul dugaanku ayah meminta izin kepada kepala sekolah, tetapi saat mereka berdua sedang berbincang-bincang, ayah dan kepala sekolah tertawa dan saling berjabat tangan, aku dan ibu bingung. Lalu ayah memperkenalkan kepala sekolah kepadaku ternyata kepala sekolah adalah teman ayah saat ayah smp, ayah lama sekali berbincang-bincang dengan kepala sekolah sampai akhirnya ibu mengingatkan ayah untuk melihat-lihat sekolah ini, dan kepala sekolah memperbolehkan. Di tengah-tengah sekolah ada sebuah taman yang indah sekali bunga-bunga bermerkaran, kupu-kupu bermain di sekelilingnya burung-burung berterbangan seakan sedang mangajak bermain, kursi-kursi taman nan indah tersedia, pohon-pohon tumbuh sangat subur, dedaunan berjatuhan. Sungguh indah pemandangan ini. Ayah mengajaku untuk melihat kelas-kelas, kelas tak kalah menariknya dengan tamannya, semua kelas bernuansa kayu dengan ukirannya yang indah, aku sangat suka di sini. Setelah melihat-lihat sekolah ini, kami kembali ke kantor kepala sekolah untuk berpamitan. Saat kami masuk ke dalam mobil, di dalam tak ada Mary, kita semua kuatir akan Mary. Tiba-tiba ada yang memanggil namaku aku langsung menoleh, ternyata Mary, ia berlari menghampiri kami, Mary membawa kantung keresek ia menyapa kami dan langsung masuk ke dalam mobil, ibu mengomel di mobil memperingatkan Mary karena ia hampir menghawatirkan kami, lalu Mary menjelaskan bahwa ia tadi sedang membeli donat untuk kita makan di mobil, mendengar itu ibu langsung terdiam pipnya merah bertanda malu, aku dan ayah tertawa, Mary diam saja seperti menahan tawa. Kami semua memakan donat yang dibeli oleh Mary, sunnguh enak rasanya sambil mengemil donat ayah menyetir dan aku, ibu, Mary bercerita.
Kami sudah ada di depan tempat wisata, kami masuk ke dalamnya dan langsung memarkirkan mobil, kami sangat senang sudah sampai di sini karena donat sudah habis, dan kita akan turun di sini lalu membeli makanan ringan lagi sambil melihat-lihat macam-macam permainan. Sebelum kita berpuas-puas, kami makan siang terlebih dahulu, kami tidak makan banyak-banyak karena kami juga sudah agak kenyang makan donat tadi. Ibu memberikan aku dan Mary es krim aku rasa coklat dan yang Mary rasa lemon, aku sangat, tiba-tiba Mary berteriak kepada seorang anak perempuan yang mungkin sebaya dengan Mary. “ Hai Bella!” Teriak Mary sambil menghampirinya, ibu ngomel-ngomel karena es krim Mary mengenai bajunya yang berwarna merah dengan renda bermotif bunga Poppy, Mary berbalik dan langsung menghadap aku dan ibu, tersenyum manis “bolehkah aku menginap di rumah Bella?” Tanya Mary sambil agak tersenyum jail
“ Siapa sih Bella itu? Kataku cepat “kok tiba-tiba ngajak nginep?”
“ Dia itu temanku di sekolah, kenalan yuk!” Ajak Mary kepadaku sambil menarik tanganku. “Bella, perkenalkan ini adikku Merlyna” Kata Mary riang “Oh ya! Hai Merlyna, senang berkenalan dengamu! Sangat senang! Mary senang bercerita tentangmu loh…. dan sekarang aku berkenalan denganmu! Walaupun baru lihat langsung tapi aku sudah tahu tentang dirimu!” Jawab Bella, suaranya melengking. Tak kusangka memang begitu Bella, wajahnya sangat polos, tetapi ternyata orangnya tak seperti wajahnya. Aku bercakap-cakap dengan Bella, sementara Mary menghampiri ibu dan meminta izin lagi, sepertinya ibu memberi Mary uang tadi

03 Juni 2008

BAGAIMANA REMAJA HARUS DISIKAPI ?

Dalam kebudayaan timur, masih banyak orangtua yang menganggap anak adalah milik orangtua, padahal seperti yang dituliskan oleh Khalil Gibran: Anak Hanya Titipan Sang Pencipta. Ia bukan kepanjangan tangan orangtua. Ia berhak memiliki kehidupannya sendiri, menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Tentu saja peran orangtua sangat besar sebagai pembimbing. Dalam usia remaja, kemampuan penentuan diri inilah yang semestinya dilatih. Remaja seperti juga semua manusia lainnya – belajar dari kesalahan. Bagi para orangtua ada baiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Mulailah menganggap anak remaja sebagai teman dan akuilah ia sebagai orang yang akan berangkat dewasa. Seringkali orangtua tetap memperlakukan anak remaja mereka seperti anak kecil, meskipun mereka sudah berusaha menunjukkan bahwa keberadaan mereka sebagai calon orang dewasa.
Hargai perbedaan pendapat dan ajaklah berdiskusi secara terbuka. Nasihat yang berbentuk teguran atau yang berkesan menggurui akan tidak seefektif forum diskusi terbuka. Tidak ada yang lebih dihargai oleh para remaja selain sosok orangtua bijak yang bisa dijadikan teman.
Tetaplah tegas pada nilai yang anda anut walaupun anak remaja anda mungkin memiliki pendapat dan nilai yang berbeda. Biarkan nilai anda menjadi jangkar yang kokoh di mana anak remaja anda bisa berpegang kembali setelah mereka lelah membedakan dan mempertanyakan alternatif nilai yang lain. Larangan yang kaku mungkin malah akan menyebabkan sikap pemberontakan dalam diri anak anda.
Jangan malu atau takut berbagi masa remaja anda sendiri. Biarkan mereka mendengar dan belajar apa yang mendasari perkembangan diri anda dari pengalaman anda. Pada dasarnya, tidak ada anak remaja yang ingin kehilangan orangtuanya.
Mengertilah bahwa masa remaja untuk anak anda adalah masa yang sulit. Perubahan mood sering terjadi dalam durasi waktu yang pendek, jadi anda tidak perlu panik jika anak remaja anda yang biasanya riang tiba-tiba bisa murung dan menangis lalu tak lama kemudian kembali riang tanpa sebab yang jelas.
Jangan terkejut jika anak anda bereksperimen dengan banyak hal, misalnya mencat rambutnya menjadi biru atau ungu, memakai pakaian serba sobek, atau tiba-tiba ber bungee-jumping ria. Selama hal-hal itu tidak membahayakan, mereka layak mencoba masuk ke dalam dunia yang berbeda dengan dunia mereka saat ini. Berikanlah ruang pada mereka untuk mencoba berbagai peran yang cocok bagi masa depan mereka. Ada remaja yang menurut tanpa membantah keinginan orangtua mereka dalam menentukan peran mereka, misalnya jika kakek sudah dokter, ayah dokter, kelak iapun “diharapkan dan disiapkan” untuk menjadi dokter pula. Namun ada juga anak remaja yang memang tidak ingin masuk ke dalam dunia yang sama dengan orangtua mereka. Dalam hal ini janganlah memaksakan anak mengikuti kehendak orangtua. Seperti Kahlil Gibran ….anak hanya titipan, ia milik masa depan dan kita milik masa lalu.
Kenali teman-teman anak remaja anda. Bertemanlah dengan mereka jika itu memungkinkan. Namun waspadalah jika anak anda sangat tertutup dengan dunia remajanya. Mungkin ia tidak/ kurang mempercayai anda atau ada yang disembunyikannya.
Perkembangan Remaja
Memahami Perkembangan Remaja Sekarang iniOrang bilang, masa remaja itu masa yang paling indah, ekspresif, produktif. Tapi, kita juga dibilang sok tau, seenaknya, dan kurang bisa menghormati orang dewasa. Jadi, kita sebenarnya gimana, sih?Ada berbagai aspek perkembangan yang kita alami, antara lain berkaitan dengan aspek sosial, emosional, konsep diri, heteroseksual dan kognitif. Yuk kita bahas satu-satu.Perkembangan sosialSemula kita memang bertingkah laku sebagai anak-anak, ketika kita dalam tahap usia anak-anak, kemudian menjadi remaja lalu serta-merta orang dewasa memosisikan kita bisa berperilaku dewasa, menyesuaikan diri dengan peran-peran dewasa dan melepaskan diri dari peran-peran sebagai anak-anak. Di sinilah titik pangkal yang menyebabkan kita berada dalam kondisi yang sulit. Maka, timbullah kebutuhan kita, misalnya akan identitas diri, individualitas bahkan kebutuhan akan kemandirian. Nah, ketika kebutuhan tersebut muncul dan orang dewasa tidak memahaminya, lagi-lagi inilah yang sering menjadi sumber permasalahan kita dengan orang dewasa atau lingkungan kita.Kita mungkin pernah mengalami kebingungan ketika menghadapi benturan nilai teman-teman dengan ortu. Rasanya sudah enggak sabar ingin lepas dari pengaruh ortu, berusaha mandiri, dan punya keputusan sendiri. Misalnya memutuskan untuk tampil cool dengan ikutan merokok bareng teman-teman lain. Padahal, merokok amat sangat dilarang oleh ortu.Benturan nilai ini akan sering kita hadapi. Pada contoh yang lebih ringan adalah pemberlakuan jam malam. Kita mungkin harus sudah sampai rumah paling telat pukul sepuluh. Jadi, selamat tinggal party-party yang baru mulai pukul sepuluh malam. Sementara itu, banyak teman yang orangtuanya membolehkan mereka ikutan party sampai tamat."Perang dunia" menahun bakal terjadi, dan bukan enggak mungkin bakal kronis, jika kita bukan tipe anak yang punya hubungan hangat dengan orangtua. Hubungan itu malah akan membangun semangat saling mau mengerti antara kita dan ortu. Iyalah, ortu mana sih yang rela melepas anaknya pulang malam untuk datang ke acara (yang menurut mereka) enggak juntrung? Sebaliknya, anak mana sih yang enggak ngomel berat dilarang datang ke party paling cool sedunia sama ortunya?Hubungan yang hangat dalam keluarga membuat kita mau menerangkan perasaan kita. Dan, ortu pun akan rela hati mendengarkan kita, juga mau menjelaskan alasan pelarangan itu dalam bahasa yang nyantai. Seringnya membuat kesepakatan antara kita dengan ortu, akan sangat membantu perkembangan diri kita. Termasuk perkembangan kehidupan sosial kitaPerkembangan emosiBentuk atau jenis emosi pada manusia itu ternyata banyak, misalnya; takut, khawatir, cemas, marah, sebal, frustrasi, cemburu, iri hati, ingin tahu, sayang, cinta benci dukacita, bahagia, dan masih banyak lagi. Lalu apa hubungannya dengan kita? Ternyata jenis atau bentuk emosi yang disebut tadi memiliki ciri-ciri perkembangan yang berbeda-beda dalam setiap tahapan perkembangan manusia. Dalam tahap remaja seperti kita sekarang ini ciri-ciri perkembangan emosi kita sebagai berikut:• Lebih mudah bergejolak dan biasanya diekspresikan dengan meledak-ledak.• Kondisi emosional yang muncul tadi berlangsung lama, sampai akhirnya kembali dalam keadaan semula.• Emosi yang muncul sudah bervariasi, bahkan kadang bercampur-baur antara dua emosi yang (sebenarnya) bertentangan. Misalnya, benci dan sayang dalam satu waktu.• Mulai muncul ketertarikan dengan lawan jenis yang melibatkan emosi (sayang, cemburu, dan sebagainya).• Mudah tersinggung dan merasa malu, karena umumnya sangat peka terhadap cara orang lain memandang kita. Tapi ini juga sangat tergantung dari perkembangan konsep diri kita.Lalu bagaimana sebaiknya kita menghadapinya? Agar semuanya terjadi secara wajar, kita perlu upaya pengendalian emosi ataupun juga menghindari beban emosi. Caranya:• Kita harus belajar menghadapi segala situasi itu dengan sikap yang rasional.• Kita juga harus menghindari penafsiran yang berlebihan terhadap situasi yang dapat membangkitkan emosional. Kalau mengalami sesuatu yang bikin marah atau sedih, jangan kebawa emosi dulu.• Memberikan respons terhadap situasi dengan pikiran maupun emosi yang tidak berlebih-lebihan, proporsional sesuai dengan keadaannya, dengan cara yang bisa diterima lingkungan sosial kita.• Mengemukakan emosi positif kita (senang, bahagia, sayang) dan juga yang negatif (sebal, sedih, marah) secara benar dan proporsional.Perkembangan konsep diriKonsep diri ini berkenan dengan perasaan dan pemikiran kita mengenai diri kita sendiri, karena atas penilaian sendiri maupun penilaian dari lingkungan sosial kita. Misalnya kalau kita enggak puas terhadap kondisi fisik, maka konsep diri menjadi buruk. Hal ini membuat kita merasa rendah diri. Begitu pula sebaliknya, konsep diri positif bila kita menilai fisik kita menarik dan sesuai dengan yang diinginkan. Kalau kita dinilai oleh orang lain, misalnya sebagai remaja yang bisa gaul, pandai dan hal-hal yang positif lainnya, maka semangat positif itu dapat meningkatkan konsep diri dan ke-PD-an kita.Salah satu ciri dari perkembangan konsep diri kita sebagai remaja ialah cenderung negatif antara lain karena berkembangnya fisik yang cukup drastis, kadang juga kurang proporsional (badan memanjang tapi kurus, bulat gemuk, dan sebagainya), merasa selalu diperhatikan orang lain atau menjadi pusat perhatian orang lain, memiliki aspirasi yang tinggi tentang segala hal.Perkembangan kognitifDalam perkembangan ini perilaku yang muncul, misalnya kritis (segala sesuatu harus rasional dan jelas), rasa ingin tahu yang kuat (perkembangan intelektual kita merangsang untuk harus mengetahui segala sesuatu, dalam tahap ini muncul keinginan untuk bereksplorasi) dan egosentris (segala sesuatu masih dilihat dari sudut pandangannya).Jadi, enggak usah terkaget-kaget dengan komentar orang dewasa terhadap diri kita, ya. Malah kalau perlu, beri mereka penjelasan bahwa beginilah perkembangan remaja. Bisa jadi, kita bakal terlihat lebih dewasa dibanding para orang dewasa itu.
Peranan Masa Depan dalam Pembimbingan Remaja
Mengungkap permasalahan remaja memerlukan kecermatan sebab kalau tidak, kita akan terjatuh ke dalam perangkap fokus tunggal. Upaya memetakan permasalahan remaja secara "keseluruhan" lebih merupakan upaya menyederhanakannya daripada menjabarkannya secara tepat. Secara pribadi saya tidak yakin kita bisa merangkumkan "keseluruhan" permasalahan remaja dewasa ini.
Menurut pengamatan saya, permasalahan remaja berdimensi majemuk dan setiap dimensi bukan saja terkait dengan dimensi lainnya, ia pun berdiri sendiri sebagai masalah mandiri yang memerlukan penanganan secara khusus dan terfokus. Dengan kata lain, saya melihat permasalahan remaja sebagai permasalahan yang bersifat multidimensional sekaligus idiosinkratik—setiap dimensi memiliki karakteristiknya tersendiri. Sebagai pemerhati remaja kita tetap dapat melakukan "sesuatu" untuk salah satu dimensi permasalahannya tanpa kehilangan fokus pada keterkaitan antar-dimensi.
Kita bisa menyoroti remaja dari sekurang-kurangnya tujuh dimensi, yakni Dimensi Keluarga, Dimensi Sosial-Ekonomi, Dimensi Akademik, Dimensi Rohani, Dimensi Kebutuhan, Dimensi Perkembangan, dan Dimensi Gangguan atau Penyimpangan. Ibarat akar pohon, setiap dimensi—bak belalai—terkait dan tumpang tindih dengan keenam dimensi lainnya namun setiap dimensi merupakan suatu pokok kajian terpisah yang memerlukan penanganan secara khusus pula. Pada makalah ini saya akan menelaah Dimensi Kebutuhan dan sudah tentu keterkaitannya dengan dimensi lainnya pula, yakni Dimensi Kerohanian dan Dimensi Keluarga. Pada akhirnya saya akan memberi sumbang-saran untuk menggali potensi remaja.
Memahami Perilaku Remaja dari Kebutuhannya
Berangkat dari teori Maslow (Myers, 1986), saya berpendapat bahwa Perilaku muncul dari Motivasi dan Motivasi berkembang dari Kebutuhan (Figur 1). Untuk lebih mempertajam proses lahirnya perilaku, saya melihat bahwa perilaku sebenarnya merupakan hasil pemilihan atau pertimbangan dari alternatif-alternatif yang tersedia. Pilihan ini dipengaruhi oleh sekurang-kurangnya empat faktor yakni: (a) nilai moral, (b) kondisi lingkungan, (c) kemampuan untuk mewujudkan pilihan, dan (d) kesempatan (Figur 2). Pilihan lahir dari motivasi, yakni sasaran untuk melakukan sesuatu guna memenuhi kebutuhan yang dirasakan.
Sebagai contoh, akibat pengalaman masa lalu yang sarat dengan penghinaan, seorang remaja bertumbuh-kembang membawa kebutuhan untuk berharga. Alhasil, muncullah motivasi dalam dirinya untuk mencari dan memperoleh penghargaan itu. Di hadapannya terbentanglah sejumlah pilihan yang kehadirannya dipengaruhi oleh sejumlah faktor pula. Misalnya, bila ia tidak memiliki nilai moral yang mengajarnya untuk mengasihi sesama manusia, ia mungkin terjebak dalam pilihan untuk mementingkan diri sendiri di atas segalanya. Pilihannya juga terbatasi oleh kondisi di mana ia hidup; bila ia hidup di Amerika Serikat, ia tetap bisa memperoleh penghargaan bahkan sebagai tukang kebun. Sebaliknya, di Indonesia, jabatan tukang kebun bukanlah jabatan terhormat—setidak-tidaknya bagi sebagian orang. Misalkan, pada akhirnya ia memutuskan untuk menjadi seorang dokter—jabatan terpandang di masyarakat kita.
Namun, pilihannya bisa pula terpengaruh oleh kemampuannya untuk mewujudkan keinginannya itu. Misalnya, keterampilan atau kapasitas intelektualnya akan menentukan apakah ia dapat menjadi seorang dokter guna memperoleh penghargaan yang didambakannya. Terakhir, walaupun ia memiliki kemampuan intelektual untuk menjadi seorang dokter, namun kesempatan itu tidak tersedia. Ia tidak diterima di sekolah kedokteran sehingga akhirnya cita-citanya untuk menjadi dokter, kandas. Sebaliknya, jika ia mampu, kondisi finansial mendukung dan kesempatan terbuka, ia akan masuk sekolah kedokteran dan berperan sebagai seorang pelajar.
Di sini kita bisa melihat bahwa kendati Kebutuhan melahirkan Motivasi, tetapi ternyata Motivasi tidak secara langsung membuahkan Perilaku. Pilihan—yang dipengaruhi oleh sederet faktor—menjadi penentu perilaku yang dimunculkan. Selama ini, bukankah kita telah banyak membicarakan mengenai motivasi: bagaimana memotivasi remaja untuk belajar, untuk beribadah, untuk taat pada hukum, untuk hidup kudus, untuk produktif dan bukannya destruktif, dan lain sebagainya? Namun, dari kerangka pemikiran di atas ini, setidak-tidaknya kita mulai menyadari bahwa ternyata mata rantainya bukanlah dua—Motivasi dan Perilaku—melainkan empat, yakni: Kebutuhan, Motivasi, Pilihan, dan Perilaku. Ada dua pengapit yang perlu mendapat perhatian kita—Kebutuhan dan Pilihan—sebelum kita dapat memotivasi remaja untuk berperilaku sebagaimana yang kita harapkan.
Kebutuhan akan Masa Depan yang Jelas dan bermakna
Pada makalah ini saya tidak akan membahas kebutuhan akan cinta kasih, keamanan atau kebutuhan emosional lainnya yang sudah tentu merupakan kebutuhan pokok remaja (Erikson, 1968; Spotts & Veerman, 1987). Secara khusus saya hanya akan menyoroti satu kebutuhan remaja yaitu masa depan yang jelas dan bermakna.
Berbeda dari para pendahulunya yang berorientasi pada masa lalu sebagai faktor penyumbang terbesar terhadap kesehatan jiwa, Allport (1955) menekankan bahwa justru masa depanlah yang berpengaruh terhadap kesehatan jiwa seseorang. Bagi Allport, intensi—pergerakan hidup ke sasaran tertentu di masa depan—adalah tali pengikat yang mempersatukan kepingan-kepingan diri manusia. Dengan kata lain, kehidupan sekarang ini tidaklah didikte oleh pengalaman masa lalu dan manusia bukanlah penerima nasib yang pasif tak berdaya. Masa depan yang jelas dan bermakna berandil besar pada kesehatan jiwa sekarang ini.
Salah satu ciri perkembangan remaja adalah kemampuan untuk berpikir abstrak dan melihat ke depan. Ketidakjelasan masa depan berpotensi menakutkan remaja dan ketakutan ini bisa mempengaruhi perilakunya sekarang. Masa depan yang jelas namun tidak bermakna juga mencemaskan remaja. Tanpa masa depan yang jelas dan bermakna, hidup lebih merupakan sebuah petualangan daripada sebuah perjalanan. Masa depan yang jelas dan bermakna merajut kepingan-kepingan kehidupan menjadi sebuah perjalanan yang terarah (Allport, 1955; Frankl, 1963). Sebaliknya, masa depan yang tidak jelas dan tidak bermakna membuat kehidupan lebih menyerupai petualangan—tanpa sasaran dan hanya bermodalkan keberuntungan nasib. Itu sebabnya, remaja perlu dapat memandang masa depan yang jelas sekaligus bermakna.
Masa depan yang jelas dan bermakna dapat lebih terjamin dengan sistem kehidupan dan prasarana yang mendukung. Namun, sistem kehidupan dan prasarana yang mendukung ternyata tidaklah cukup untuk menciptakan masa depan yang jelas dan bermakna. Saya sudah menyaksikan ini di Amerika Serikat. Pemerintah di sana menyediakan pendidikan bebas biaya mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Lanjutan Atas. Pada tingkatan perguruan tinggi (negeri), seseorang hanya perlu membayar sedikit biaya untuk meraih gelar sarjana. Atau, jika ingin belajar di perguruan tinggi swasta, seseorang bisa meminjam uang di bank dengan bunga rendah
Dan ia tidak harus mencicil balik pinjaman itu sampai setahun setelah ia menyelesaikan kuliahnya.
Ironisnya, tidak sedikit remaja di Amerika yang terlibat dalam perilaku negatif. Penggunaan narkoba, putus sekolah, dan tindak kriminal yang berkaitan dengan geng merupakan bagian kehidupan remaja di sana. Beberapa tahun terakhir ini kita pun telah dikejutkan dengan berita pembunuhan yang dilakukan oleh remaja di Amerika. Di tengah kelimpahan prasarana dan bantuan riil, ternyata sebagian remaja di Amerika tetap bermasalah.
Menurut pengamatan saya, yang terhilang di sini adalah masa depan yang jelas dan bermakna—kondisi yang tidak selalu berhubungan dengan sistem kehidupan dan prasarana yang mendukung. Sekarang saya bisa bernapas lebih lega sebab jika itulah syaratnya, saya kira, kita di Indonesia akan sarat dengan remaja bermasalah oleh karena keterbatasan kita menyediakan sistem kehidupan dan prasarana yang mendukung. Ada hal-hal lain yang mempengaruhi terciptanya masa depan yang jelas dan bermakna; dua di antaranya adalah kerohanian dan keluarga. Pada simpul inilah, Dimensi Kebutuhan bersinggungan dengan Dimensi Kerohanian dan Dimensi Keluarga (Figur 3). Saya akan mengulas kedua dimensi ini dalam kaitannya dengan kebutuhan akan masa depan yang jelas dan bermakna.

Kerohanian.
Kerohanian memiliki peran yang menentukan dalam pemunculan perilaku sebagai pemenuh kebutuhan akan masa depan yang jelas dan bermakna. Nilai rohani yang diyakini berpotensi berfungsi sebagai pagar yang membatasi perilaku, sedangkan kepastian akan penyertaan Tuhan dan rencana-Nya bagi kehidupan insan yang berserah kepada-Nya menyediakan makna hidup. Makna hidup bukan saja berfaedah untuk membingkai pengalaman masa lalu dalam kerangka pemeliharaan Tuhan, ia pun menempatkan masa depan dalam keterarahan dan sekaligus memberi pengharapan akan kebaikan Tuhan.
Hilangnya masa depan yang jelas dan bermakna dapat mengaktifkan sifat petualang remaja secara negatif. Hidup menjadi penuh ketidakkepastian dan di dalam ketidakkepastian yang berlaku adalah Hukum Kesempatan atau lebih tepat lagi, Keberuntungan. Petualangan direduksi menjadi sebuah upaya pencarian keberuntungan dan fokus utamanya adalah kesempatan—peluang yang harus dengan segera dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sebaliknya, di dalam kepastian dan kejelasan akan masa depan, hukum yang berlaku adalah Hukum Imbalan berapa yang diberikan setimpal dengan berapa yang diterima.
Kerohanian membuat kita menjadi lebih sabar untuk menanti berkat Tuhan karena kita tahu bahwa Ia akan memelihara hidup kita. Tanpa kerohanian, kita lebih tergoda bertindak impulsif dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan—alias berpetualang. Menurut saya, kerohanian memberi sumbangsih besar terhadap keterkaitan antara Motivasi dan Perilaku. Saya kira sudah waktunya kita meluangkan lebih banyak perhatian dan waktu pada aspek kerohanian remaja, dan bukan hanya pada aspek intelektual dan sosialnya.
Keluarga.
Ibarat tanah, keluarga merupakan tempat bertumbuhnya individu. Upaya memahami dan mengoreksi perilaku remaja lepas dari keluarganya sama dengan mencoba memadamkan kebakaran di hutan dengan sehelai selimut. Remaja adalah produk dan bagian dari sistem keluarganya; perubahan pada sistem keluarga memungkinkan terjadinya perubahan pada diri dan perilaku remaja (Satir, 1983).
Keluarga mempunyai peranan yang vital dalam penyediaan kebutuhan akan masa depan yang jelas dan bermakna. Keluarga yang tenteram merupakan prasyarat mutlak bertumbuhnya remaja secara maksimal; sebaliknya, ketegangan dalam keluarga akan menguras energi mental remaja untuk berkembang sesuai usianya (Minuchin, 1974; Hart, 1991).
Secara langsung, sekurangnya ada dua kebutuhan yang bertalian erat dengan kebutuhan akan masa depan yang jelas dan bermakna: kebutuhan akan pengarahan dan kebutuhan akan penghargaan. Anak memerlukan pengarahan dan akan melihat kepada orangtua untuk mendapatkan pengarahan (Dobson, 1997). Anak butuh untuk diberitahukan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukannya, apa yang seharusnya atau tidak seharusnya diperbuat, apa yang sanggup atau tidak sanggup dilakukannya, dan apa itu yang menjadi kekuatan dan keterbatasannya. Tanpa pengetahuan semua ini, anak bertumbuh besar tersesat dan melayang, tanpa arah.
Anak juga membutuhkan penghargaan dan ia akan menantikannya dari orangtua (Satir, 1972; McGee, 1990). Penghargaan yang diterimanya meyakinkannya bahwa ia bernilai dan dapat berfaedah bagi orang di sekitarnya. Penghargaan membuatnya sadar dan berterima kasih bahwa ia dibutuhkan dalam hidup ini; penghargaan yang diterimanya mendorongnya untuk menghargai diri secara tepat dan positif. Tanpa penghargaan, anak bukan saja tidak tahu fungsinya dalam hidup ini, ia pun akan merasa hampa dan tidak bernilai.
Singkat kata, sulit bagi anak untuk mengembangkan masa depan yang jelas dan bermakna tanpa menerima kecukupan pengarahan dan penghargaan. Dengan pengarahan dan penghargaan yang memadai, anak akan bertumbuh menjadi remaja yang memiliki makna hidup yang jelas dan tidak ada orang yang paling berperan pada tahap ini selain orangtua. Keluarga menempati posisi yang penting dalam perajutan masa depan yang jelas dan bermakna bagi remaja. Sekali lagi, semua usaha untuk membenahi permasalahan remaja lepas dari keluarganya sama dengan memadamkan kebakaran di hutan dengan sehelai selimut.
Memberdayakan Potensi Remaja
Sedikit mengulang yang telah kita bahas sejauh ini, pada dasarnya saya melihat bahwa Perilaku merupakan buah akhir dari Kebutuhan. Kebutuhan, sebagai pangkal penggerak manusia melahirkan Motivasi tetapi ternyata Motivasi tidak langsung menghasilkan Perilaku. Sebelum Perilaku, kita mempunyai Pilihan dan Pilihan menentukan perilaku yang akan kita munculkan.
Mengeksplorasi Pilihan
Sebagaimana telah saya utarakan di atas, ada empat faktor yang mempengaruhi proses penentuan pilihan, yaitu:
nilai moral,
kesempatan,
kondisi lingkungan dan
kemampuan untuk mewujudkan pilihan.
Selanjutnya, saya pun sudah menjelaskan bahwa Kebutuhan berkaitan dengan dan dipengaruhi oleh Kerohanian dan Keluarga. Pada Figur 4 kita bisa melihat bahwa Nilai Moral dan Kesempatan berkaitan dengan Dimensi Kerohanian sedangkan Kondisi Lingkungan dan Kemampuan untuk Mewujudkan Pilihan bertalian dengan Dimensi Keluarga. Di bawah ini saya akan memberikan saran untuk mengejawantahkan keempat faktor yang termaktub dalam Pilihan.

Nilai moral.
Pendidikan nilai moral wajib diajarkan kepada remaja secara konkret dan relevan dengan keadaan nyata. Contoh langsung dan situasi yang menuntut respons yang bersifat etis harus menempati porsi yang besar dalam pendidikan nilai moral. Menurut saya, hanya dengan cara inilah remaja baru melihat kegunaan dan relevansi agama dalam kehidupan mereka.
Pendidikan nilai moral tidak mungkin diajarkan secara efektif bila si pengajar sendiri bukanlah orang yang mementingkan perkara rohani. Contoh kehidupan barulah nyata jika diberitakan oleh orang yang mengalaminya sendiri. Dengan kata lain, apabila kita menghendaki agar remaja memiliki kerohanian yang baik, kita pun perlu memberi contoh itu kepada mereka. Jika kita mengharapkan remaja untuk hidup dipandu—bukan di luar—nilai moralnya, kita pun harus hidup konsisten dengan keyakinan rohani kita. Saya kira tidaklah adil menyalahkan remaja atas kehidupan imoralnya bila kita sendiri tidak hidup seperti itu.
Pada dasarnya kita perlu menghidupkan atmosfer rohani di lingkungan hidup remaja melalui ibadah yang bersifat personal, bukan ritual semata. Remaja harus memiliki relasi dan pertanggung-jawaban pribadi kepada Tuhan sebelum bisa menundukkan diri pada perintah-Nya dan mewujudkan pilihan yang benar.
Kesempatan.
Pada bagian selanjutnya saya baru membicarakan tentang kesempatan yang dapat diusahakan manusia. Kesempatan yang saya maksud di sini lebih mengacu kepada aspek rohani, yakni kesempatan yang Tuhan berikan. Di dalam dunia dagang pada umumnya orang mengakui keabsahan faktor keberuntungan. Saya lebih suka menyebutnya, kesempatan. Kita bisa bekerja sekeras mungkin dan mengupayakan jalan sebanyak-banyaknya namun tanpa faktor kesempatan (yang dari Tuhan), kita tidak akan mencapai tujuan. Firman Tuhan yang tertera di Amsal 10:22 menegaskan kebenaran ini, "berkat Tuhan yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya."
Remaja yang bergantung pada kekuatan sendiri untuk meraih keberhasilannya berpotensi menjadi petualang. Sebagaimana telah saya singgung di atas, faktor petualang menjadi bertambah besar tatkala kejelasan akan masa depan yang bermakna, berkurang. Remaja dapat belajar untuk bergantung pada pemeliharaan Tuhan yang akan memberinya kesempatan. Pada akhirnya remaja perlu menerima fakta bahwa sesungguhnya manusia tidak bisa menciptakan kesempatan; manusia hanyalah dapat mempersiapkan diri untuk menyambut kesempatan. Kesempatan adalah sesuatu yang diberikan (oleh Tuhan) dan pada dasarnya kita tidak dapat mencari-cari kesempatan. Remaja yang berpetualang adalah remaja yang mencari-cari kesempatan dalam hidup dan orang yang mencari-cari kesempatan pada suatu ketika akan menabrak tembok.
Konsep kesempatan dari kerangka ilahi merupakan cara pandang yang sangat mempengaruhi sikap dan tindakan kita. betapa mudahnya kita menyalahkan (dan membenci) orang lain yang lebih beruntung dari kita karena kita menganggap bahwa kesempatan itu bersumber dari manusia. Sekali lagi, menurut saya, manusia tidak menciptakan kesempatan namun manusia bertanggung jawab untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya guna menyambut kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita. Dan saya percaya, Tuhan lebih sering dan lebih senang memberikan kesempatan kepada orang yang telah mempersiapkan diri untuk menerima kesempatan.
Remaja mudah terperosok ke dalam hidup berpetualang jika mereka hanya melihat kesempatan sebagai hadiah dari manusia kepada manusia lainnya. Kita perlu menekankan kepada remaja bahwa tugas mereka ialah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, artinya mendayagunakan dan memaksimalkan karunia dan kesempatan yang Tuhan telah berikan sejauh ini. Tanpa pemahaman yang seperti ini, remaja rawan untuk memilih tindakan yang melenceng guna memenuhi kebutuhannya akan masa depan yang jelas dan bermakna.
Kondisi lingkungan.
Sebagai makhluk sosial, remaja hidup di tengah-tengah sesamanya—keluarga dan orang di sekitarnya, yang secara berurut mencerminkan besaran pengaruhnya pada pertumbuhan remaja. Sebagaimana telah saya singgung di atas, upaya menangani masalah remaja haruslah mencakup unsur keluarganya. Salah satu gejala yang lebih umum kita saksikan dewasa ini adalah kekurangterlibatan orangtua dalam kehidupan remaja. Ironisnya adalah, orangtua hanya terlibat tatkala remaja sudah menjadi masalah—dan pada tahap ini usaha perawatannya akan lebih menemui banyak perlawanan.
Erickson (1968) menekankan bahwa fase remaja merupakan fase pembentukan jatidiri dan kegagalan melalui fase ini dengan baik mengakibatkan munculnya reaksi kebingungan peran. Secara sekilas teori Erickson seolah-olah mengatakan bahwa proses pembentukan jatidiri baru dimulai pada fase remaja. Sesungguhnya, teori Erickson justru mengemukakan bahwa proses pertumbuhan—termasuk di dalamnya pembentukan jatidiri—merupakan sebuah proses yang berkesinambungan di mana setiap fase mempengaruhi fase berikutnya dan setiap fase dipengaruhi oleh fase sebelumnya. Dengan kata lain, pembentukan jati diri tidak berhulu pada usia remaja; proses ini sudah beranjak jauh sebelumnya; ia hanya memasuki tahap penyempurnaan atau kematangannya pada usia remaja.
Dalam pertumbuhannya, setidak-tidaknya seorang anak akan melewati dua fase pembentukan jatidiri—fase sebelum remaja dan fase remaja. Pada fase sebelum remaja, anak akan mendefinisikan dirinya melalui tanggapan-tanggapan yang diterima dari orangtua. Pada fase remaja, ia mendefinisikan dirinya lewat respons-respons yang diberikan oleh teman-temannya. Apabila ia telah mendefinisikan dirinya secara positif—akibat perlakuan orangtua yang positif terhadapnya—ia pun cenderung untuk menemukan lingkungan pergaulan yang sesuai dengan definisi dirinya yang positif. Sebaliknya, jika ia mempunyai definisi diri yang telanjur negatif—akibat perlakuan orangtua yang negatif terhadapnya—ia juga cenderung akan mencari teman pergaulan yang sepadan dengan definisi dirinya yang negatif. Dengan kata lain, pada masa remaja, anak akan mencari habitat yang cocok dengan definisi dirinya.
Syukur kepada Tuhan, meski berakar, definisi diri merupakan sebuah entitas yang elastik—dapat dan akan berubah seturut dengan pengalaman hidup. Di sinilah terbuka pintu masuk bagi kita sebagai pemerhati remaja untuk menciptakan kesempatan bagi remaja untuk me-redefinisi dirinya dan kita bisa melakukannya melalui dua jalur. Pertama, masuk ke dalam kehidupan keluarganya dan mengajarkan mereka untuk mengubah perlakuan negatif terhadap anak dan membuatnya positif. Kedua, kita dapat pula menciptakan habitat yang berbeda untuk remaja—habitat yang positif dan secara perlahan akan mengubah definisi dirinya.
Jalur pertama dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung misalnya lewat ceramah keluarga atau khotbah di mimbar. Secara langsung, misalnya melalui terapi keluarga atau kelompok pendukung (support group) yang kita tawarkan kepada orangtua yang berminat. Jalur kedua bisa diselenggarakan melalui aktivitas bersama, misalnya pelbagai kelompok kreativitas, pecinta alam, sains, kegiatan rohani dan sosial. Kuncinya di sini ialah kegiatan—segala kegiatan yang bersifat nonakademik di mana remaja berkesempatan memunculkan serta mendayafungsikan diri secara lebih luas.
Kemampuan untuk mewujudkan pilihan.
Ada beberapa tahapan menuju pada kemampuan untuk mewujudkan pilihan dan semua ini sekaligus merupakan tugas serta peranan kita sebagai pemerhati remaja. Pertama, identifikasi talenta. Pada tahap ini remaja memerlukan bimbingan agar ia dapat melihat bidang keahliannya dan keterbatasannya. Saya menyarankan agar tes dan bimbingan bakat atau karier diberikan kepada siswa selambat-lambatnya pada level SLTA II. Pengenalan bakat akan memberi arah (sense of direction) kepada remaja dan menambah motivasi untuk menjadi seseorang orang berguna.
Kedua, persiapan yang realistik. Pada tahap ini remaja membutuhkan pengarahan bagaimana mencapai target yang diharapkan. Kata "realistik" saya gunakan untuk menegaskan perlunya penentuan langkah yang dapat dicapai, bukan hanya yang ingin dicapai. Kesulitan biaya atau kurangnya dukungan keluarga sering kali merupakan kendala yang membatasi kemampuan remaja merealisasikan pilihannya. Itu sebabnya pembimbing remaja harus bekerja di dalam keterbatasan ini, bukan di luarnya. Misalkan, jauh-jauh hari kita bisa menasehatinya untuk tidak menikah pada usia muda agar ia dapat menabung untuk sekolahnya kelak. Dengan kata lain, pada tahap ini, remaja perlu menerima bimbingan untuk mulai merencanakan masa depannya. Masa depan yang jelas dan bermakna harus diawali oleh perencanaan dan persiapan yang matang.
Terakhir, pengambilan langkah bertangga. bagi yang memiliki dukungan keluarga dan finansial, pengambilan langkah dapat dilaksanakan secara serentak. bagi yang tidak mempunyai dukungan-dukungan ini, acap kali pengambilan langkah harus dilakukan secara bertahap—bak menaiki anak tangga. Misalkan, jika remaja tidak mempunyai kemampuan finansial untuk memasuki perguruan tinggi, kita bisa menyarankannya untuk memulai langkah ke sana (ke perguruan tinggi) dengan bekerja terlebih dahulu selama setahun. Setelah biaya terkumpul, ia bisa menyelesaikan program D-1, kemudian bekerja kembali selama setahun sebelum menyelesaikan program D-2, dan seterusnya.
Kuncinya di sini adalah pembimbingan yang berkesinambungan. Remaja memerlukan pengarahan agar dapat merancang dan mempersiapkan masa depan. Tanpa perencanaan dan persiapan yang memadai, remaja akan mengalami kesukaran merealisasikan pilihannya, apalagi jika ia tidak menerima dukungan keluarga.
Kesimpulan
Jiwa petualang bisa berkonotasi positif dan negatif. Dalam makalah ini saya menggunakannya secara negatif yakni jiwa yang tidak mempunyai pegangan dan bergerak tanpa arah. Jiwa petualang membutuhkan masa depan yang jelas dan bermakna; tugas kita sebagai pemerhati remaja adalah membimbingnya agar dapat "menemukan" masa depan yang jelas dan bermakna.
Ada empat hal yang dapat kita lakukan yang akan membantu remaja menentukan pilihan yang tepat untuk tindakannya. Pertama, menanamkan nilai moral agar pilihan yang dibuatnya berpagarkan tonggak-tonggak rohani. Kedua, mengajaknya bersandar pada Tuhan yang memberi kesempatan dan belajar menerima bagian yang Ia tentukan. Ketiga, memperbaiki kondisi lingkungannya—termasuk keluarga—agar dapat menciptakan diri yang positif. Keempat, mempersiapkannya untuk bisa mencapai tujuan hidupnya.
Masalah remaja memang kompleks namun itu tidak berarti tak teratasi. Setiap kita bisa terlibat dalam bagian tertentu dari permasalahannya dan setiap bagian yang telah dipulihkan akan membawa dampak positif pada bagian lainnya. Jadi, lakukanlah bagian kita masing-masing dengan iman, pengharapan, dan kasih.
*Makalah ini pernah dipresentasikan pada Sarasehan Guru dan Konselor dengan judul, "Pemberdayaan Jiwa Petualang Remaja" di Universitas Kristen Petra, Surabaya, 18 November, 2000.
Menelusuri Kecemasan pada Remaja
Bila banyak pihak mencemaskan individu yang berada pada masa remaja, bagaimana dengan kecemasan yang dialami pada remaja itu sendiri?

Period of storm and stress
Banyak alasan mengapa masa remaja menjadi sorotan yang tidak lekang waktu. Psikologi sendiri memandang periode ini sebagai periode yang penuh gejolak dengan menamakan period of storm and stress. Arnett menarik tiga tantangan tipikal yang secara general biasa dihadapi oleh remaja; (1) konflik dengan orangtua, (2) perubahan mood yang cepat, dan (3) perilaku beresiko (dalam Laugesen, 2003)
Peran teman sebaya yang mulai ‘menggeser’ peran orangtua sebagai kelompok referensi tidak jarang membuat tegang hubungan remaja dan orangtua. Teman sebaya menjadi ukuran bahkan pedoman dalam remaja bersikap dan berperilaku. Meskipun demikian studi Stenberg menemukan bahwa teman sebaya memang memiliki peran yang penting bagi remaja, namun pengaruh teman sebaya cenderung pada hal-hal yang berhubungan dengan gaya berpakaian, musik dan sebagainya. Sementara untuk nilai-nilai fundamental, remaja cenderung tetap mengacu pada nilai yang dipegang orangtua termasuk dalam pemilihan teman sebaya, biasanya juga mereka yang memiliki nilai-nilai sejenis (dalam Perkins,2000).
Benarkah demikian? Agaknya para orangtua harus berbesar hati dan membuka diri agar tidak tertipu oleh model rambut, mode pakaian, musik yang berdebum di kamar remaja, juga gaya bahasa yang tidak jarang membuat telinga terasa penuh. Kedekatanlah yang bisa membuka mata dan hati untuk melihat lebih jernih nilai-nilai yang sebenarnya dipegang remaja. Bukankah penemuan Stenberg menjadi angin segar dan harapan yang menggembirakan di mana orangtua atau keluarga tetap menjadi model utama. Hanya penampilan tentu tidak selalu sama, era digital bukankah membawa berjuta pilihan? Tidak hanya bagi remaja, tetapi juga orangtua.
Mood yang naik turun juga sering terdengar dari celetukan remaja, “Bete niiih..” Ada dua mekanisme di mana mood mempengaruhi memori kita. (1) Mood-dependent memory ,suatu informasi atau realita yang menimbulkan mood tertentu, atau (2) Mood congruence effects, kecenderungan untuk menyimpan atau mengingat informasi positif kala mood sedang baik, dan sebaliknya informasi negatif lebih tertangkap atau diingat ketika mood sedang jelek (Byrne & Baron, 2000). Bisa dibayangkan bagaimana perubahan mood yang cepat pada remaja terkait dengan kecemasan yang mungkin terbentuk.
Remaja juga mempunyai reputasi berani mengambil resiko paling tinggi dibandingkan periode lainnya. Hal ini pula yang mendorong remaja berpotensi meningkatkan kecemasan karena kenekatannya sering mengiring pada suatu perilaku atau tindakan dengan hasil yang tidak pasti. Keinginan yang besar untuk mencoba banyak hal menjadi salah satu pemicu utama. Perilaku nekat dan hasil yang tidak selalu jelas diasumsikan Arnett membuka peluang besar untuk meningkatnya kecemasan pada remaja (dalam Laugesen, 2003)
dr warnet